sri rejeki, si pembawa hoki
SI PEMBAWA
HOKI
Tanaman ini memiliki daun yang istimewa. Karena mudah memeliharanya,
tanaman ini disebut tanaman hias yang cantik dan tak rewel. Tak heran jika
sebagian orang memercayainya sebagai tanaman pembawa keberuntungan.
Dulu, Aglaonema, atau sri rejeki, hanya dikenal dengan daunnya yang bertotol
putih atau hijau. Tetapi sekarang tidak lagi. Beragam Aglaonema hibrida
memiliki daun beraneka warna, semisal merah, pink, atau kuning. Tak heran,
jika semakin hari harga Aglaonema semakin meroket saja.
Ukay, dari An-nisa Flora yang setahun ini memfokuskan diri pada tanaman
pembawa rejeki ini mengatakan, Aglonema dihargai Rp 100 ribu sampai Rp 50
juta. Bahkan ada juga yang dijual berdasarkan banyaknya daun dalam satu
tanaman. "Bagi orang awam harga segitu bisa membuat kaget. Beda dengan orang
yang memang hobi tanaman," kata Ukay dengan mata berbinar.
Varietas Aglaonema bisa mencapai 100 jenis, dan bisa terus berkembang.
Aglaonema ditemukan di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, Malaysia). Tak
heran jika para kolektor banyak mencari Aglaonema sampai ke Thailand. Lalu,
diperbanyakan di sini dengan cara kultur jaringan, anakan, stek batang,
biji, pencangkokan, dan vegetatif.
Selain cantik sebagai penghias teras, Aglaonema juga pas diletakkan di atas
meja sebagai pelengkap. Dan jika diletakkan di atas meja, maka medianya yang
non pupuk kandang. Begitu juga yang dilakukan Ukay. Biasanya memakai arang
sekam, cocopeat (serbuk sabut kelapa), pasir malang, kapur untuk
menetralisir ph, dan pupuk Dekastar.
Karena Aglaonema keindahannya justru dari daunnya, jika tumbuh bunga malah
dibuang. "Karena banyak menyerap hara. Apalagi bunganya enggak cantik dan
tersembunyi. Lebih baik dibuang saja," jelas Ukay.
Bisa Berubah
Di Indonesia, Greg Hambali dikenal sebagai seorang pembudidaya Aglaonema
yang cukup sukses. Hasil budi daya pria asal Bogor terkenal sampai manca
negara. Salah satu Aglaonema hasil budidayanya yang terkenal di dunia,
diberi nama Pride of Sumatera. "Selain barangnya langka, harganya pun
"selangit"," lanjut Ukay.
Nama yang diberikan terhadap Aglaonema pun bervariasi. Greg lebih banyak
memberi nama wanita pada Aglaonemanya seperti Widuri, Juliet, Srikandi,
Diana, atau Shinta. Sementara Ukay memilih menggunakan nama-nama asing
seperti Princess Noble, Black Prince, Pink Panther, Snow White, atau Chow
Chow. "Kalau saya memberi nama tergantung dari bentuk dan warna tanaman
tersebut. Pernah saya memberikan nama Golden Lipstik yang di pinggirnya
berwarna merah. Eh, ternyata begitu ditanam di Semarang yang hawanya panas,
warnanya berubah jadi merah semua," papar Ukay sembari tergelak. Pengalaman
itu membuat Ukay tak buru-buru memberi nama.
Jika ingin mengoleksi Aglaonema, tak sulit, kok, memeliharanya. Yang
penting, jangan disimpan di tempat yang langsung terkena sinar matahari.
Penyiraman bisa tiap hari, atau dua hari sekali, tergantung materi media
tanaman yang dipakai. "Kadang 2 atau 3 hari tidak disiram juga tidak
apa-apa, asal ditanam di media yang bisa menyimpan air. Itu sebabnya sangat
penting menentukan media tanam yang pas," papar Ukay.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar